Sabtu, 21 Maret 2015

Untukmu, Calon Imamku




Untukmu, calon imamku, 

Anggaplah ini surat cinta, bukan puisi yang sudah sering kali kau baca.

Aku ingin sampaikan satu rahasia bahwa,

Aku tidak pandai menyimpan rasa,

Entah aku harus mengatakan apa, tentang semua yang aku rasa, setiap frasa antara kita terlalu manis, dan terlewat tanpa jeda.

Kali ini aku tidak lagi ingin menulis banyak perihal kita yang tidak akan habis diurai segala perkaranya.

Aku hanya ingin mendoa, agar perjalanan penggenapan rasa menjadi ikatan mulia ini akan menjadi ikatan terindah untuk dikenang sepanjang usia.



Calon imamku,

Aku ingin sematkan banyak terima kasih kepadamu,

Karena telah memilihku, menjadi salah satu pengisi sebagian kecil hidupmu.

Berjanjilah kepadaku, nanti ketika kau menghadapi hari yang kelabu, ingatlah aku. 

Atas apapun yang kau rasa begitu susah, kumohon jangan mudah untuk menyerah.

Dengan penuh cinta, aku tulis puisi ini dengan rasa yang tengah buncah menyambut perayaan hari kita berdua.

                                                                        


                                                                                                                -Primadiana Yunita-

Rabu, 26 November 2014

Kepada Kamu di Tahun Ketiga




Kepada kamu, hadiah dari Tuhan yang dititipkan pada semesta 
Aku mengucap banyak terima kasih karena sebentuk rasa yang masih terjaga hingga tahun ketiga kita.

Debar ini masih sama, seperti saat pertama kita menaklukkan bianglala di tengah kota.

Bagiku, entah dan bagaimanapun itu, kamu terlalu tahu bagaimana cara untuk membuat segala rasaku untukmu selalu utuh dan baru. 

Hari ini aku tidak lagi ingin menulis banyak perihal kita yang tidak akan habis diurai segala perkaranya

Aku hanya ingin mendoa, agar kebersamaan kita tidak hanya sebatas hitungan angka, satu dua dan tiga

Tapi akan berjalan selamanya tanpa pernah ada akhirnya

Kepada kamu, selamat mengulang hari jadi kita di tahun ketiga.





Rabu, 05 November 2014

Rindu Masa Lalu



Kerinduan itu akhirnya terjawab semalam,

Lewat hujan yang datang hampir tengah malam.

Air bergemericik turun menyapa butir butir tanah yang dilanda dahaga beberapa bulan silam.

Seperti layaknya katak yang bernyanyi riang saat yang ditunggu tunggu datang,

Hatiku berdendang mengurai kenangan perihal rasa dan segala perkaranya yang tetiba datang begitu saja.



Semesta terkadang punya caranya untuk mengirimkan sinyalnya atas kamu,

Memutar kembali jalinan pita atas nama cinta yang pernah kita genggam bersama.

Karenamu caraku merayakan datangnya hujan tidak akan pernah sama.



Menuliskan tentang hujan sama saja mengulang kenangan tentang satu ciuman

Jangan tanya bagaimana rasanya, aku yakin lebih rumit daripada sekedar penjabaran atas reaksi kimia

Setahun berlalu dan debar itu tak pernah berhenti mengetuk setiap kali hujan menyapaku

Atas rindu ini dan segala ingatanku tentangmu aku mulai lelah dan hilang arah.

Rasa-rasanya, aku ingin mendamai dengan segalamu yang seharusnya telah lalu. 



Hujan akhirnya merintik pelan-pelan menyudahi deras yang tiba-tiba.

Lagi lagi rindu ini dibiarkan tumbuh semu dibungkus ingatan tentang masa lalu.

Lewat sepi yang hanya bisa aku nikmati sendiri saat ini,

Biarkan malam ini kukirim kepadamu sandi bahwa aku tengah mencandui akan segala kenangan yang telah kita lalui.
 

Copyright © PRIMADIANA YUNITA. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver