Kamis, 26 Oktober 2017



Akan tiba pada suatu masa ketika memorabilia menyeruak di tengah hingar bingar dunia

Berjalan menapak pada suatu waktu yang sepi dan sekilas melihat ke belakang

Seringkali kita berjalan terlalu lurus ke depan tanpa pernah menertawai kenangan

Lucu bila sudah sejauh ini kita kadang hanya berputar konstan

dan tak tahu kemana harus berjalan

Ahh sesungguhnya apa ini semua, hanya sebuah racauan

Rabu, 25 Oktober 2017



Waktu semakin menjauh dan membunuh
Menostalgi kenangan yang terasa rapuh
Ketika kata dan canda tiada lagi bersisa
Saat kita terganti oleh hal lain beratasnamakan realita

Kini yang kurindu adalah masa kita menertawakan bersama tentang
kecewa,
luka,
dan curiga
dalam frekuensi yang sama......


Sabtu, 21 Maret 2015

Untukmu, Calon Imamku




Untukmu, calon imamku, 

Anggaplah ini surat cinta, bukan puisi yang sudah sering kali kau baca.

Aku ingin sampaikan satu rahasia bahwa,

Aku tidak pandai menyimpan rasa,

Entah aku harus mengatakan apa, tentang semua yang aku rasa, setiap frasa antara kita terlalu manis, dan terlewat tanpa jeda.

Kali ini aku tidak lagi ingin menulis banyak perihal kita yang tidak akan habis diurai segala perkaranya.

Aku hanya ingin mendoa, agar perjalanan penggenapan rasa menjadi ikatan mulia ini akan menjadi ikatan terindah untuk dikenang sepanjang usia.



Calon imamku,

Aku ingin sematkan banyak terima kasih kepadamu,

Karena telah memilihku, menjadi salah satu pengisi sebagian kecil hidupmu.

Berjanjilah kepadaku, nanti ketika kau menghadapi hari yang kelabu, ingatlah aku. 

Atas apapun yang kau rasa begitu susah, kumohon jangan mudah untuk menyerah.

Dengan penuh cinta, aku tulis puisi ini dengan rasa yang tengah buncah menyambut perayaan hari kita berdua.

                                                                        


                                                                                                                -Primadiana Yunita-

Rabu, 26 November 2014

Kepada Kamu di Tahun Ketiga




Kepada kamu, hadiah dari Tuhan yang dititipkan pada semesta 
Aku mengucap banyak terima kasih karena sebentuk rasa yang masih terjaga hingga tahun ketiga kita.

Debar ini masih sama, seperti saat pertama kita menaklukkan bianglala di tengah kota.

Bagiku, entah dan bagaimanapun itu, kamu terlalu tahu bagaimana cara untuk membuat segala rasaku untukmu selalu utuh dan baru. 

Hari ini aku tidak lagi ingin menulis banyak perihal kita yang tidak akan habis diurai segala perkaranya

Aku hanya ingin mendoa, agar kebersamaan kita tidak hanya sebatas hitungan angka, satu dua dan tiga

Tapi akan berjalan selamanya tanpa pernah ada akhirnya

Kepada kamu, selamat mengulang hari jadi kita di tahun ketiga.





 

Copyright © PRIMADIANA YUNITA. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver